Ceritarakyat ataupun dongeng yang berkaitan dengan bencana alam. Question from @Siwiwidiya12 - Sekolah Menengah Atas - Sejarah Search. Articles Register ; Sign In . Siwiwidiya12 @Siwiwidiya12. April 2019 1 4 Report. Cerita rakyat ataupun dongeng yang berkaitan dengan bencana alam . ardisaputri22 Terbentuknya Danau Toba dan Pulau Samosir
RelasiManusia dan Alam Dalam Cerita Rakyat - FLORES MUDA Contoh Cerita Rakyat Atau Dongeng Yang Berkaitan Dengan Bencana … Contoh Cerita Rakyat Atau Dongeng Yang Berkaitan Dengan Bencana … Contoh Dongeng yang Berkaitan Dengan Bencana Alam - Penulis Cilik disetip daerah tentu ada cerita rakyat ataupun dongeng yg … 37 Cerita Rakyat Paling Populer di Indonesia (Nusantara) Kumpulan
CeritaTagari Lonjo ini juga berkaitan dengan bencana alam, yaitu likuifaksi. Menurut cerita dari masyarakat Baloroa dan sekitarnya, Tagari berarti daerah , sedangkan Na'Lonjo yang berasal dari Bahasa Kaili memiliki arti tertanam atau daerah yang berawa .
Peristiwaalam bencana longsor ini menyebabkan kerugian yang besar, mulai dari kerusakan rumah, putusnya akses kendaraan, hilangnya harta benda, dan korban jiwa. Karena sangat jarang orang dalam kejadian tanah longsor bisa menyelamatkan diri, itu dikarenakan kecepatan tanah longsor bisa sampai 100km/jam.
CeritaRakyat Dongeng Yang Berkaitan Dengan Bencana Alam - Hello friends zilacygworld, In the article that you read this time with the title Cerita Rakyat Dongeng Yang Berkaitan Dengan Bencana Alam, we have prepared this article well for you to read and retrieve information in it. hopefully fill in the post Artikel Cerita Sahabat Nabi, what we write can you understand.
rHGJ7. Jalan beraspal hancur di Balaroa, Palu Barat, akibat likuefaksi pasca-gempa. Foto Jamal Ramadhan/kumparanTopalu'e. Tanah yang terangkat. Diyakini, kata tersebutlah yang menjadi muasal dari nama Kota Palu. Dikisahkan, daratan yang kini menjadi Kota Palu adalah lempeng yang terendam di lautan. Namun, akibat ribuan gempa dan aktivitas bumi yang luar biasa, Kota Palu terangkat’ ke permukaan. Bukannya tak mungkin. Sebab di bawah Palu adalah sesar paling aktif nomor dua di Indonesia Sesar sepanjang 500 kilometer ini membentang dari Laut Sulawesi, membelah Teluk Palu ke Lembah Koro, dan menjulur hingga Teluk Bone di Sulawesi tersebut aktif hingga saat ini. Jumat 28/9, ia bahkan menggeliat dan meluluhlantakkan Kota Palu. Hingga Minggu 7/10, tak kurang dari orang meninggal Topalu’e bagi orang modern yang berhitung mesin-angka tentu berlebihan. Namun, bagi beberapa suku asli di sekitar Palu dan Donggala, sematan predikat peringatan bagi gempa besar benar adanya. Kearifan Lokal Indonesia dan Mitigasi Bencana Foto Basith Subastian/kumparanNeneng Susilawati adalah salah satu anggota tim Ekspedisi Sesar Palu-Koro. Ia, bersama beberapa peneliti lintas disiplin macam geolog Danny Hilman dan Mudrik Daryono dari LIPI, melakukan penelitian soal Sesar Palu-Koro pada Juli 2018. Berbeda dengan para kompatriotnya, Neneng fokus ke soal sosial-budaya di daerah-daerah yang dilewati Sesar Palu-Koro. Di sini Neneng menemukan bahwa suku-suku asli di Sulawesi Tengah sebetulnya akrab dengan gempa bumi dan tsunami. Sederet gempa dan ombak besar memang tercatat pernah menerjang Kota Palu dan sekitar. Selama seratus tahun terakhir, tak kurang lima gempa dan tsunami telah menelan korban jiwa, yaitu pada Desember 1927 dan 1938 di Teluk Palu, 1968 di Teluk Tambung, dan pada Januari 1996 di Suku Kulawi–yang tinggal menyebar di sekitar Danau Lindu, Dataran Kulawi, Dataran Gimpu, dan sekitar Sungai Koro–menganggap gempa-gempa besar dan tsunami tersebut sebagai bentuk cobaan dan ujian. Bumi menuntut introspeksi dari para pemukimnya. Ini berbeda dengan gempa kecil, yang mereka pandang sebagai pertanda leluhur akan datang untuk memperkuat tulang gempa besar ini, upacara Adat Linu gempa bumi dilakukan. Anggota Suku Kulawi menyelenggarakan pemujaan terhadap Karampua Ntana Penguasa Tanah dan Karampua Langi Penguasa Langit. Tujuannya jelas, sebagai ucapan syukur bagi mereka yang selamat dan memohon perlindungan dari malapetaka kepada kedua penguasa langit-bumi tersebut. Upacara yang sama juga dilakukan saat Desa Bora diguncang gempa 6,2 magnitudo sebulan setelah tsunami Aceh di soal cerita dan kepercayaan yang ditemurunkan, mawas diri masyarakat Kulawi terhadap kehadiran gempa bumi dan tsunami yang secara konstan hadir di kehidupan mereka juga diterjemahkan ke dalam arsitektur bangunan. Rumah adat Lobo. Foto Antara FotoRumah adat masyarakat Kulawi yang bernama Rumah Lobo tersusun dari kayu, rotan, dan punya kaki yang mengangkat tubuh bangunan beberapa meter dari tanah. Tak hanya Kulawi, beberapa adat lain pun memiliki ciri arsitektur serupa. Di Desa Labean, Kecamatan Balaesang, Kabupaten Donggala, arsitektur rumah warga menyerupai rumah panggung yang sama-sama terbuat dari kayu. Begitu pula rumah Katabak yang berada di pinggir pantai. Satu elemen penting pada Rumah Lobo juga terdapat di rumah Desa Labean dan Rumah Katabak ini, yaitu badan bangunannya yang terangkat oleh tiang-tiang kayu beberapa meter dari cerita yang didapat Neneng dari penyintas tsunami tahun 1968, struktur rumah semacam itu berhasil menyelamatkan mereka. “Saat tsunami, fondasi kayu di bawah dan tiang-tiangnya hancur, tapi bagian rumahnya tidak. Kemudian rumah itu kayak perahu di atas air. Ia terseret sampai sawah dan penghuninya selamat,” ujar Neneng kepada kumparan, Minggu 7/10. Rumah warga di Labean, Kecamatan Balaesang, Donggala. Foto Dok. Neneng Susilawati/Tim Ekspedisi Sesar Palu-KoroSeiring zaman, jumlah rumah macam Lobo dan Katabak, serta yang ada di Desa Labean, terus berkurang. Begitu pula dengan upacara-upacara dan giat adat yang kini tak semeriah dulu, bahkan tak jarang dianggap bertentangan dengan agama. “Tradisi makin lama makin hilang atau menjadi bercampur dengan tradisi para pendatang,” kata Sesar Palu-Koro ia dan timnya sempat terhenti karena kekurangan sponsor. Meski begitu, mereka akan kembali ke Palu untuk melanjutkan penelitian dalam waktu dekat. Cerita rakyat dan pemilihan arsitektur yang turun-temurun, tak tercipta di ruang hampa. Ia berpatokan pada suatu kejadian atau pengalaman di masa lampau yang mendorong masyarakat untuk meneruskan pembelajaran akibat kejadian tersebut kepada generasi setelahnya. Menurut antropolog Universitas Indonesia, Sri Murni, ada beberapa kriteria bagi suatu bentuk budaya bisa disebut folklor. Selain diturunkan minimal ke dua generasi lewat tutur lisan maupun warisan, ia mustilah anonim alias milik kolektif. Ia juga berumus berpola macam cerita rakyat yang biasanya diawali klise, Pada zaman dahulu’.Walau begitu, menurut Sri Murni, ada satu karakteristik lain yang tak kalah penting dari folklor, yaitu, “Punya fungsi buat masyarakat.”Menurut Sri Murni, ada tiga macam bentuk folklor, yaitu lisan, sebagian lisan, dan bukan lisan. Folklore lisan bermacam dari nyanyian rakyat, cerita rakyat, hingga pertanyaan dan ungkapan tradisional. Sementara, sebagian lisan bisa berupa kepercayaan rakyat dan permainan rakyat. “Yang bukan lisan apa? Makanan rakyat, obat-obatan rakyat, sampai arsitektur rakyat. Folklor bukan sebatas nyanyian, bukan sebatas mitos, takhayul. Lebih luas. Ia harus punya fungsi kolektif,” kata Sri Murni saat ditemui kumparan di Kampus UI, Depok, Jumat 5/10.Fungsi kolektif folklor dalam hal kebencanaan tak hanya ditemukan di Palu dan daerah-daerah Sulawesi ujung barat Indonesia, masyarakat Pulau Simeulue mewariskan folklor lisan yang dikenal dengan sebutan Smong. Artinya tsunami. Meski apabila dirunut lebih jauh ke bahasa akarnya, Davayan, smong juga bisa diartikan sebagai bencana’. Masjid di Banda Aceh masih berdiri setelah gempa dan tsunami Aceh. Foto AFP/CHOO YOUN-KONGPada saat gempa bermagnitudo 9,2 terjadi di penghujung tahun 2004 di Aceh, smong yang dinyanyikan dari generasi ke generasi punya andil besar dalam menyelamatkan ribuan warga Pulau Simeulue dari maut. Hafal luar kepala cerita di dalam smong, penduduk lari ke dataran tinggi yang lebih aman. Dari sebuah bencana yang merenggut total 250 ribu jiwa, angka tujuh korban tewas di Simeulue merupakan catatan yang patut mon sao surito, inang maso semona Dengarkan kisah ini, pada suatu hari Manoknop sao fano, uwilah da sesewan Tenggelamlah suatu desa, begitu yang diceritakan Unen ne alek linon, fesang bakat ne mali Diawali dengan gempa bumi, diikuti surutnya air laut Manoknop sao hampung, tibo-tibo maawi Lalu seluruh negeri tiba-tiba tenggelam Ango linon nek malo oek suruk sauli Ketika terjadi gempa dahsyat, diikuti surutnya air laut Maheya mihawali fano me senga tenggi Segera cari tempat yang lebih tinggi Ede smong kahane, turiang da nenekta Tsunami, itulah namanya, yang dikatakan nenek moyang kita Miredem teher ere Ingatlah semua ini Fesan navi-navi da Pesan dan petuah Smong rumek-rumek mo Smong adalah air mandimu Linon uwak-uwak mo Gempa adalah buaianmu Elaik kedang-kedang mo Guntur adalah detakmu Kilek suluh-suluh mo Kilat adalah lampumu Alahae Simeulue Oh SimeulueMenurut naskah akademis berjudul “Smong” as local wisdom for disaster risk reduction yang ditulis oleh Ayu Suciani dan rekan-rekannya dari Universitas Samudra dan Univesitas Syah Kuala pada 2005, akar kemunculan smong bisa ditarik dari peristiwa tsunami di Simeulue yang terjadi pada 1907. Saat itu, gempa bermagnitudo 7,6 melanda Aceh pada 4 Januari 1907. Gempa menyebabkan ombak besar menyapu daratan dan membunuh lebih dari 50 persen penduduk Pulau Simeulue. Peristiwa terjadi pada hari Jumat ketika kebanyakan masyarakat tengah menjalankan ibadah salat tersebut begitu membekas dalam benak masyarakat Simeulue. Ia abadi dalam nyanyian pengingat yang menegarkan para korban tsunami, kemudian turun-temurun disenandungkan para orang tua kepada anaknya sebagai senandung heran masyarakat Simeulue sudah terbiasa untuk lari menuju dataran tinggi apabila merasakan gempa di bawah kaki mereka. Upacara Purnama Kapat di Pura Besakih, Karangasem, Bali. Foto Antara/Nyoman BudhianaFolklor soal kebencanaan juga terekam di Pulau Dewata’ Bali. Bersama dengan pulau-pulau Sunda Kecil lain yang senantiasa terancam oleh Sunda Megathrust yang menjulur dari barat Sumatera ke selatan Nusa Tenggara dan sesar-sesar lokal yang tak kalah berbahaya, Bali juga cukup sering mendapat bencana dari perut yang paling dikenal adalah Geger Bali. Gempa tersebut yang menghantam Pulau Dewata pada 1917 dengan kekuatan 7 magnitudo. Gempa yang berlangsung selama 50 detik itu membuat pura dan bangunan lain rata dengan juga pernah diguncang gempa bumi tahun 1976 berkekuatan 6,5 magnitudo, sekitar 5 kilometer di sebelah selatan pesisir Laut Bali. Peristiwa ini terekam dalam cerita rakyat yang beredar di Bali Utara, yang mengisahkan bagaimana Bukit Umanyar konon awalnya tidak berada di dekat laut.“Dahulu kala bukit itu berjalan menuju laut. Sampai akhirnya seorang pemelihara bebek terhentak dan berteriak, Bukit Umanyar berjalan menuju laut!’,” ungkap Sugi Lanus, pendiri Hanacaraka Society, menceritakan catatan peristiwa gempa 1976 yang terekam dalam lontarnya. Sugi adalah seorang pelestari, peneliti, dan ahli lontar Bali. Kebetulan, ia juga merasakan langsung gempa Bali tahun gempa bumi di Bali dan Nusa Tenggara antara tahun 1973-2013 Foto Dok. Dwiyanti KusumaningrumFolklor soal kebencanaan di Bali tak hanya terekam dalam bentuk cerita lisan. Dalam lontar Asta Kosala Kosali dan Asta Bumi, folklor dan sikap mawas diri masyarakat Bali terhadap bencana juga mewujud dalam rujukan tata ruang dan bangunan mereka. Naskah tersebut tidak menganjurkan pesisir pantai menjadi permukiman, kecuali untuk fungsi pelabuhan. Selain itu, ada pula local knowledge yang menyebut kosmologi Bali terbagi menjadi tiga hulu kepala, tengah badan, dan tĕbĕn kaki. Bagian tĕbĕn pesisir dikatakan tidak layak huni. Ini sejalan dengan Asta Kosala Kosali dan Asta Bumi yang mengisyaratkan bahaya gempa bumi dan tsunami yang menjadi eksesnya. Dampaknya nyata dan terjadi kepada dua desa kuno di Bali Timur dan Utara, yaitu Desa Tenganan dan Desa Sidatapa. Dahulu, warga kedua desa tersebut bermukim di pesisir pantai. Mereka lalu pindah ke wilayah tengah dengan alasan mencurigakan’, meski kemungkinan besar untuk menjauh dari daerah pesisir yang memiliki potensi terdampak tsunami lebih besar.“Pesisir secara turun-temurun tidak direkomendasi sebagai tempat permukiman. Hanya desa-desa pemekaran saja yang posisinya di pesisir,” ujar di balik cerita-cerita rakyat yang diturunkan lisan dari mulut ke mulut, tersimpan tujuan di dalamnya.
Walau terlihat menakutkan, menceritakan dongeng yang berkaitan dengan bencana alam sebetulnya baik untuk anak-anak. Dongeng semacam itu bisa bikin anak-anak untuk bisa menghargai alam yang ada di sekitar. Sebab, dengan menghargai alam, manusia pun bisa terhindar dari bencana alam. Dongeng semacam itu juga bisa mengajarkan anak-anak tentang nilai kehidupan jangan serakah terhadap harta, serta tidak boleh menghina orang artikel ini, kami bakal tampilkan beberapa contoh dongeng yang berkaitan dengan bencana alam. Siapa tahu bisa menjadi referensi bagi Sahabat yang mau membacakan dongeng untuk anak-anak Sahabat. Beberapa referensi tersebut adalah sebagai berikut!Dongeng Gunung LokonReferensi dongeng pertama adalah Legenda Gunung Lokon. Dongeng dari tanah Minahasa ini bercerita tentang seorang pemuda bernama Makawalang yang tinggal di Gunung hari, dia diusir dari Gunung Lokon oleh sepasang suami istri bernama Pinontoan dan Ambilingan. Mereka mengusir Makawalang karena merasa lebih layak tinggal di gunung pergilah Makawalang dari Gunung Lokon dengan hati yang sedih. Singkat cerita, Makawalang menemukan sebuah gua yang kelak menjadi tempat tinggalnya yang pun akhirnya tinggal di bagian terdalam gua tersebut. Selama tinggal di sana, Makawalang menancapkan sejumlah tiang besar penyangga tanah. Hal itu dilakukan agar bumi tidak runtuh dan pun juga ditemani kawanan babi hutan selama tinggal di gua tersebut. Sayangnya, babi-babi tersebut sering menggosok-gosokan badan mereka ke tiang-tiang penyangga. Apa yang mereka lakukan itu menimbulkan gempa bumi yang terjadi di seluruh penjuru bumi. Termasuk di gua tempat Makawalang tinggal, serta di Gunung gempa bumi bisa terhenti, Makawalang dan semua warga yang terkena gempa pun mengusir para kawanan babi. Salah satunya dengan memukul tong tong dan meneriakkan kalimat “wangko! tambah hebat lagi”.Dongeng Rawa PeningReferensi dongeng selanjutnya adalah Rawa Pening. Dongeng asal Jawa Tengah ini berkisah tentang seorang ksatria yang dikutuk penyihir akibat sifat iri hatinya kepada sang hari, sang ksatria itu bermimpi bahwa dia akan menemukan seorang wanita yang dapat melepaskan kutukannya. Dan untuk menemukan wanita tersebut, sang ksatria harus berkelana ke sejumlah berkelanalah sang ksatria ke sejumlah tempat. Salah satunya adalah sebuah daerah yang diisi oleh orang kaya. Di sana, sang ksatria dihina oleh orang-orang karena kutukan yang kesal, sang ksatria pun menancapkan sebuah lidi di salah satu sudut daerah tersebut. Lidi tersebut kemudian dilepaskan dan mengeluarkan air dalam jumlah air tersebut menenggelamkan semua warga di sana. Kelak, daerah yang pernah disambangi sang ksatria tersebut akan dikenal sebagai Rawa Situ BagenditReferensi dongeng yang terakhir adalah Situ Bagendit. Dongeng asal Garut ini berkisah tentang seorang wanita yang kaya raya. Sayangnya, wanita tersebut punya sifat pelit dan selalu menumpuk harta bendanya. Dia tak pernah mau menyumbangkan hartanya pada orang lain. Sekalipun orang lain sangat membutuhkannya. Akibat sifat buruknya tersebut, semesta pun memberikannya hukuman berupa musibah banjir tersebut berhasil menenggelamkan sang wanita beserta harta bendanya. Kelak, tempat tenggelamnya sang wanita tersebut akan dikenal sebagai Situ juga Referensi Dongeng Sebelum Tidur yang Cocok untuk Anak Usia 1 - 7 TahunItulah beberapa referensi dongeng yang berkaitan dengan bencana alam. Semoga bisa menjadi referensi untuk Sahabat yang mau membacakan dongeng soal bencana alam kepada anak-anak Anggie Warsito
Indonesia merupakan negara yang rawan terjadi bencana alam seperti gempa bumi, banjir, dan tanah longsor. Oleh karena itu, masyarakat Indonesia mempunyai banyak cerita rakyat atau dongeng yang berkaitan dengan bencana alam. Dongeng tersebut diwariskan dari generasi ke generasi dan menjadi bagian dari kebudayaan Indonesia. Berikut adalah beberapa contoh dongeng yang berkaitan dengan bencana alam. 1. Legenda Gunung Merapi Gunung Merapi adalah salah satu gunung berapi yang paling aktif di Indonesia. Masyarakat sekitar telah mengenal legenda tentang Gunung Merapi sejak lama. Menurut legenda tersebut, ada seorang putri cantik yang tinggal di sebuah desa di lereng Gunung Merapi. Putri tersebut sangat disayangi oleh masyarakat di desa tersebut karena kebaikan hatinya. Suatu hari, Gunung Merapi meletus dan mengeluarkan lava panas yang mengancam desa tersebut. Putri tersebut berusaha menyelamatkan masyarakat dengan meminta pertolongan pada dewa setempat. Dewa tersebut memberikan sebuah kalung ajaib yang bisa memadamkan api. Putri tersebut kemudian melemparkan kalung tersebut ke arah lava dan terjadi keajaiban. Lava tersebut padam dan desa tersebut selamat dari bencana alam. Kalung tersebut kemudian menjadi pusaka dan diwariskan dari generasi ke generasi sebagai simbol keberanian dan keteladanan. 2. Legenda Banjir Bandang Banjir bandang adalah bencana alam yang sering terjadi di Indonesia. Masyarakat Indonesia mempunyai banyak cerita rakyat atau dongeng yang berkaitan dengan banjir bandang. Salah satunya adalah legenda tentang banjir bandang di sebuah desa. Menurut legenda tersebut, ada seorang petani yang sangat baik hati dan selalu membantu masyarakat sekitar. Suatu hari, desa tersebut dilanda banjir bandang yang sangat besar. Petani tersebut berusaha menyelamatkan masyarakat dengan membuat sebuah perahu dan mengajak mereka untuk naik ke perahu tersebut. Perahu tersebut kemudian melayang-layang di atas air dan terbang ke langit. Masyarakat tersebut selamat dari bencana banjir bandang dan petani tersebut diangkat menjadi pahlawan yang dihormati oleh seluruh masyarakat. 3. Legenda Tanah Longsor Tanah longsor adalah bencana alam yang sering terjadi di Indonesia. Masyarakat Indonesia mempunyai banyak cerita rakyat atau dongeng yang berkaitan dengan tanah longsor. Salah satunya adalah legenda tentang tanah longsor di sebuah desa. Menurut legenda tersebut, ada seorang tukang kayu yang sangat pandai membuat rumah. Suatu hari, desa tersebut dilanda tanah longsor yang sangat besar. Tukang kayu tersebut berusaha menyelamatkan masyarakat dengan membuat sebuah rumah yang sangat kuat dan tahan terhadap tanah longsor. Masyarakat tersebut selamat dari bencana tanah longsor dan rumah tersebut diangkat menjadi simbol kekuatan dan ketahanan. Tukang kayu tersebut kemudian dihormati oleh seluruh masyarakat sebagai pahlawan. 4. Kesimpulan Dongeng yang berkaitan dengan bencana alam merupakan bagian dari kebudayaan Indonesia. Dongeng tersebut mengandung pesan moral dan nilai-nilai kebaikan yang dapat dijadikan sebagai inspirasi dalam menghadapi bencana alam. Oleh karena itu, kita sebagai masyarakat Indonesia harus menjaga kebudayaan tersebut agar tidak hilang. Navigasi pos Sebagai seorang pelajar, mungkin kamu pernah mendengar istilah domain. Domain adalah nama unik dan spesifik yang digunakan untuk mengidentifikasi sebuah… Apakah Anda sedang mencari aplikasi bahasa Indonesia untuk Android? Jika iya, Anda beruntung karena artikel ini akan membantu Anda menemukan…
BERBAGAI peristiwa bencna alam di Lembah Palu zaman dahulu telah terekam dalam memori kolektif secara turun temurun dalam bentuk cerita rakyat atau legenda. Bukan sekedar dongeng pelipur lara orang-orang tua kepada anak cucunya, melainkan sebuah cara pengungkapan berita yang menyiratkan suatu peristiwa dan perlunya kewaspadaan. Kearifan budaya lokal itu beberapa contoh bisa ditampilkan berikut ini; Cerita tentang dikeramatkannya kucing sebagai binatang peliharaan rumah yang tidak boleh disiram air atau disakiti. Konon dapat mengakibatkan hujan deras dan banjir bah. Sebagian masyarakat tradisional di Lembah Palu masih mempercayai hal ini sebagai bentuk rasa sayang pada binatang peliharaan paling dekat dengan manusia. Syahdan suatu masa di Tanah Kaili, seekor kucing menyelam ke dalam sebuah telaga mengambil jarum milik Sang Putri yang jatuh. Akibatnya, kucing itu basah kuyub dan tak lama kemudian hujan deras dan banjir datang mengakibatkan kerusakan dan genangan air bah. Dalam mitologi beberapa suku di Sulawesi Tengah, kucing masih disakralkan tidak boleh disakiti atau disiram karena dipercaya akan menimbulkan bencana. Hal ini sekedar contoh tentang perlunya keseimbangan alam, manusia dan makhluk di dalamnya yang disimbolkan dengan kucing yang harus diperlakukan sesuai habitatnya. Legenda paling umum dikenal orang-orang tua di Sigi maupun di Donggala adalah tentang terjadinya Lembah Palu dan Danau Lindu. Konon tepi laut zaman dahulu dari Ganti di wilayah barat Donggala hingga ke arah selatan kampung Bangga dan Bora Sigi. Alkisah, dalam sebuah pelayaran dari lautan utara menuju lautan selatan, Sawerigading singgah di perairan laut Kaili dengan menambatkan perahunya di pelabuhan Bora wilayah Kerajaan Sigi Namun pada saat itu tanpa diketahui, ternyata anjing raksasa miliknya bernama Labolong turun ke darat tanpa diketahui. Pada saat mengejar buruan, Labolong terperosot dan jatuh ke dalam telaga yang menjadi kubangan tempat berdiamnya belut raksasa bernama Lindu. Maka seketika itu juga sang Lindu langsung menggigit kaki Labolong yang perkasa. Sebagai anjing pemburu, Labolong tak rela diusir begitu saja. Meskipun memberi alasan pada Lindu tentang kehadirannya di tepi telaga, tetapi alasan itu tidak digubris sang raja belut. Bahkan terus menyerang hingga Labolong yang kemudian berhasil keluar dari kubangan Lindu dengan kaki dan punggungnya sudah berdarah kena gigitan penguasa telaga itu. Saking dahsyatnya perkelahian antara kedua binatang raksasa itu, mengakibatkan gempa bumi dahsyat, menggetarkan jagad raya. Akibat pertarungan itu pula, air kubangan tempat berdiamnya Lindu berubah menjadi air bah. Terus mengalir seakan tiada henti. Telaga yang tadinya hanya kecil kemudian melebar dan air yang keluar dari perut bumi pun meluap hingga mengalir ke segala arah. Pohon-pohonan bertumbangan dan bukit-bukit di sekitar tempat sekitarnya luluh-lantak diterjang banjir bandang. Peristiwa gempa ini getarannya terasa sampai di pusat Kerajaan Sigi di arah utara tempat kapal Sawerigading berlabuh. Gempa bumi dan banjir besar dengan tanah longsor yang tumpah dari lereng pegunungan sekeliling laut teluk hingga menutupi laut Kaili. Maka sejak itu perairan teluk Kaili yang sebelumnya menjadi tempat pelayaran, akhirnya mengering menjadi daratan seperti yang terlihat saat ini menjadi Lembah Palu. Terkait sebutan Loli Tasiburi di Kecamatan banawa, dalam legenda juga dikaitkan peristiwa perkelahian anjing Labolong dengan Lindu. Konon, ketika perkelahian itu tanpa sadar Labolong dan belut raksasa itu hanyut dan terdampar di Kampung Loli Tasiburi yang kini bagian dari tepi barat Teluk Palu wilayah Banawa, Donggala. Di sinilah kedua binatang itu mati tenggelam. Sejak itu pula tempatnya dinamai Tasiburi artinya laut yang hitam, karena tempat matinya Labolong dan secara alamiah keberadaan laut di tempat tersebut cukup dalam. Dalam bahasa Bugis Labolong berarti hitam dan dalam bahasa Kaili disebut Buri. Bekas yang dilalui Lindu saat diseret dari lubangnya menjadi aliran sungai besar yang kini disebut Sungai Palu. Sedangkan bekas kubangan belut raksasa dinamai Danau Lindu yang saat ini dikenal sebagai hulu sungai Palu. Sampai sekarang masih banyak belut hidup di Danau Lindu, meskipun tidak lagi yang bentuknya raksasa seperti zaman dahulu. Danau itu terletak di sebuah dataran tinggi dalam wilayah Kecamatan Lindu, Kabupaten Sigi dikeliling kawasan Taman Nasional Lore Lindu. Ada pulang peristiwa bencana alam yang terekam dalam memori warga Watusampu Vatusampu di zaman dahulu. Suiatu masa hujan deras disertai halilintar yang terus bergemuruh sepanjang siang dan malam. Mendung yang terus menggantung di langit, menumpahkan air seakan tiada henti. Air bah mengalir selama dua hari dari lereng-lereng gunung di kawsan Watusampu. Lama kelamaan tumpukkan tanah dan bebatuan dari lereng gunung terbawa air semakin banyak hingga menutupi seluruh tepian pantai Teluk Kaili Teluk Palu wilayah barat menjadi daratan. Di ataranya kini dinamai Watusampu salah satu permukiman tua yang secara administrasi masuk wilayah Kecamatan Ulujadi. Di kawasan ini terdapat sebuah makam berusia ratusan tahun ikut tergeser dari arah lereng pegunungan ke tepi pantai dalam posisi yang tetap utuh. Makam tersebut berada di perairan beberapa meter dari tepi pantai yang oleh masyarakat Watusampu menamainya makam Pue Pasu. Seorang tokoh yang dikeramatkan, dianggap memiliki kearifan dan kedidayaan dalam menyatukan kelompok-kelompok etnis serumpun di Lembah Kaili. Memiliki hubungan sosial yang luas, sering melakukan pelayaran ke berbagai kawasan di Nusnatara, bahkan konon berlayar sampai ke Tanah Cina dengan kemampuan luar biasa dalam menaklukkan lautan. Ganasnya gelombang lautan tidak menggetarkan jiwanya setiap berlayar dan tidak mengenal situasi cuaca seburuk apapun kalau mau berlayar akan dilakukan. Posisi makam Pue Pasu yang semula berada di lereng gunung kemudian berada di tepi pantai, menyiratkan suatu peristiwa alam banjir dan longsor pernah terjadi. Mengakibatkan pergeseran tanah dan berbagai material sehingga sebagian batu besar termasuk makam bergeser ke tepi pantai. Secara toponim dalam cerita rakyat, tempat pembangunan rumah pertama di tepi pantai itu terdapat sebuah batu besar yang dinamai Vatu Sampau. Vatu berarti batu dan Sampau berarti serumpun. Secara harfiah bermakna serumpun batu. Masyarakat kemudian menamainya Vatu Sampu yang belakangan dalam penulisan popular dikenal Watusampu. JAMRIN ABUBAKAR
Hello, Sobat Ilyas! Apa kabar? Kita semua tahu bahwa bencana alam adalah sebuah kejadian yang tidak dapat dihindari. Namun, sebagai masyarakat kita dapat belajar dari pengalaman dan mengambil pelajaran dari cerita rakyat yang berkaitan dengan bencana alam. Mari kita simak beberapa di antaranya. 1. Legenda Tangkuban Perahu Tangkuban Perahu adalah sebuah gunung yang terletak di Jawa Barat. Menurut legenda yang beredar di masyarakat, dahulu kala ada seorang putri cantik bernama Dayang Sumbi yang tinggal di daerah itu. Suatu hari, ia meminta bantuan kepada seorang raksasa untuk membuatkan sebuah sumur. Namun, raksasa itu menuntut Dayang Sumbi untuk menjadi istrinya. Dayang Sumbi menolak dan mengajukan permintaan terakhir, yaitu meminta raksasa untuk membuatkan sumur dalam waktu semalam. Raksasa menyetujuinya, namun Dayang Sumbi menipu raksasa dengan membunyikan alat musik di tengah malam sehingga raksasa percaya bahwa waktu sudah pagi. Raksasa pun gagal memenuhi permintaan Dayang Sumbi dan melakukan amukan yang mengakibatkan terbentuknya Gunung Tangkuban Perahu. 2. Legenda Gunung Merapi Gunung Merapi adalah gunung api yang terletak di Jawa Tengah. Menurut legenda yang beredar di masyarakat, dahulu kala ada seorang raja yang sedang mencari seorang istri. Ia menemukan seorang wanita cantik yang bernama Sinta. Namun, Sinta tidak ingin menikah dengannya dan kabur ke salah satu gunung di Jawa Tengah. Raja marah dan memerintahkan prajuritnya untuk mengejar Sinta. Namun, Sinta berhasil kabur dan memohon bantuan kepada Dewi Sri, dewi panen yang dipercaya masyarakat sebagai pelindung gunung. Dewi Sri pun membantu Sinta dengan membuatkan sebuah lubang yang mengeluarkan air panas dan membuat prajurit raja mengalami luka bakar. Lubang itu dikenal dengan nama “Kawah Merapi” yang artinya “lubang yang menyala”. 3. Legenda Gunung Krakatau Gunung Krakatau adalah gunung api yang terletak di Selat Sunda. Menurut legenda yang beredar di masyarakat, dahulu kala ada seorang putri yang bernama Rara Kidul. Ia sangat cantik dan mempunyai kekuatan magis yang besar. Suatu hari, Rara Kidul jatuh cinta dengan seorang pria yang bernama Jaka Tarub. Namun, Jaka Tarub memutuskan untuk meninggalkan Rara Kidul karena ia merasa takut dengan kekuatan magis Rara Kidul. Rara Kidul merasa sangat sedih dan marah sehingga ia mengeluarkan kemarahan yang besar dan mengakibatkan terjadinya letusan Gunung Krakatau. 4. Legenda Banjir Bandang di Wasior Wasior adalah sebuah kota kecil yang terletak di Papua Barat. Pada tahun 2010, kota ini dilanda banjir bandang yang mengakibatkan banyak korban jiwa dan kerusakan yang besar. Menurut cerita rakyat yang beredar di masyarakat, banjir bandang ini terjadi karena adanya orang yang tidak mematuhi adat istiadat setempat. Orang tersebut membuka hutan dan mengambil kayu tanpa meminta ijin kepada penguasa setempat. Akibatnya, penguasa setempat marah dan mengeluarkan kutukan yang mengakibatkan terjadinya banjir bandang. 5. Legenda Tsunami di Aceh Tsunami Aceh pada tahun 2004 adalah salah satu bencana alam terbesar yang pernah terjadi di Indonesia. Menurut cerita rakyat yang beredar di masyarakat, tsunami ini terjadi karena adanya orang yang tidak mematuhi adat istiadat setempat. Orang tersebut membuang sampah di laut dan merusak lingkungan laut. Akibatnya, dewa laut marah dan mengeluarkan kutukan yang mengakibatkan terjadinya tsunami yang besar. Kesimpulan Demikianlah beberapa cerita rakyat yang berkaitan dengan bencana alam. Meskipun cerita rakyat ini tidak dapat dijadikan patokan yang pasti, setidaknya kita dapat memetik pelajaran dari cerita tersebut. Mari kita jaga lingkungan dan mematuhi adat istiadat setempat agar terhindar dari bencana alam yang lebih besar. Sampai jumpa kembali di artikel menarik lainnya!
cerita rakyat yang berkaitan dengan bencana alam